Suatu Siang di Sekre Himas

Warnet BDW
backsound : megalomaniac - incubus

Beberapa bulan yang lalu
- semester enam akhir di ruang sekretariat HIMAS (Himpunan Mahasiswa Akuntansi STAN, qiu). Saya dan beberapa teman akunTIGAe* ngumpul di ruang sekretariat, mengisi waktu luang (kuliah kosong saat itu kalau saya ga salah). Entah awalnya apa yang kami perbincangkan sampai akhirnya obrolan merambah ke masalah penempatan. Pengen penempatan mana? Diantara teman-teman yang ada di situ ternyata saya satu-satunya yang memilih depkeu. Mayoritas mereka ingin di BPK (Badan Pemeriksa Keuangan) ataupun BPKP (Badan Pengawasan Keuangan dan pembangunan, kalau ga salah ^^x) . Saat itu mereka bilang,
"Aku sih bukan tipe orang yang bisa diem di kantor.."
"..Ga suka kerja yang banyakan diemnya kayak di depkeu.."
"..tapi kalau q2 kayaknya betah ya kerja kayak gitu.."
Saya hanya diam, agak ragu juga dengan pilihan saya, dalam hati "saya juga sebenernya gampang bosen sama hal yang stagnan".


Sekarang - setelah resmi lulus dari STAN. Saya kembali berpikir tentang pilihan penempatan saya. Saya tetap memilih depkeu. Walau bisa dibilang agak gambling. Tapi berbeda dengan saat di ruang sekretariat Himas, saya ga lagi ragu. InsyaAllah saya mantap. Saya pikir, ini bukan lagi tentang apa-saya-suka atau tidak-suka tapi dimana-saya-dibutuhkan. Dan dengan mekanisme penempatan yang di-handle oleh setjen depkeu ini, saya malah lebih bersyukur.

Sekarang saya hanya harus menunggu sampai pengumuman instansi depkeu keluar.

Allah tidak akan menyia-nyiakan saya.

Insya Allah..



*) Kelas 3e spesialisasi akuntansi pemerintahan


Tentang penempatan

18 september 2007 pengumuman instansi akhirnya keluar juga. Saya sebenarnya ga terlalu bernafsu (hehe) menanti keluarnya pengumuman yang satu ini. Kalau saja seorang teman, sebut saja fita (nama sebenarnya ^^x), ga meng-sms saya malam sebelumnya pastilah saya ketinggalan info yang satu ini. Tapi setelah tahu pun saya tetap belum tergerak hati (dan badan) untuk pergi ke kampus. Saya sudah mencanangkan bahwa hari itu adalah hari mencuci (titik! ga boleh diganggu gugat!).

Saya berkutat dengan cucian kotor yang satu baskom besar itu..

Selesai mencuci, iseng sms fita, minta tolong nitip dilihatin saya kebagian instansi mana. Ternyata oh ternyata sms balasan dari sang teman mengejutkan. Dia yang mengajak saya liat pengumuman itupun ternyata sedang berniat meng-sms saya untuk meminta tolong hal yang sama ke saya. Cape deh. Akhirnya memutuskan memaksa tubuh ini berjalan ke kalimongso dan ke kampus.
Pas di kampus, saat itu jam 1 siang, ternyata pengumuman belum keluar. i wasn't surprise about this. Kata teman yang tetap setia stand by menunggu keluarnya pengumuman, sekretariat bilang pengumuman keluar 1 atau 2 jam lagi. Kami (saya dan fita) memutuskan pulang dengan satu kesimpulan, pengumuman paling cepat 2 jam lagi atau mungkin besok, atau besoknya lagi, atau ... (hehe)


Sore hari, saat sedang berjibaku (istilah apa ini? hehe) di warnet dekat kost. Seorang teman yang lain (bukan fita!) sms saya pengumuman instansi sudah keluar. Beliau dapat jatah di depkeu tapi pengen ke menko perekonomian. Tuker-cari-tukeran tapi ditolak mentah-mentah. Belakangan saya tahu menko perekonomian ternyata only available for 6 alumnee dan mayoritas domisili jakarta. Tapi saya belum juga tahu di instansi mana saya.

Malam harinya saya baru dapat info, ternyata saya di depkeu. Pilihan pertama saya saat polling lalu. Mendengar mekanisme tukar-menukar instansi, hehe saya ga tertarik. Biarlah tetap disini saja. Di instansi manapun nantinya saya (di depkeu), insyaAllah saya terima. Terkesan terlalu pasrah? Entah. Yang jelas for now saya berserah diri, biarlah Allah saja yang memilihkan untuk saya. Kalau ibu saya bilang (via sms), "..dimanapun (penempatan nanti) bumi Allah tapi kalau boleh milih mudah-mudahan dapat tempat di jawa.." Amin..


Kengerian (?) Setahun Mendatang

Tiga tahun kuliah di STAN berakhir juga.
Setelah sempat dilanda kebudregan (hehe minjem istilah seorang teman) finally memutuskan untuk tetep di jakarta, melanjutkan kost setahun ke depan, at the same house. Tapi bukan kengerian ini yang saya maksud.

Just like the other people felt ketika wisuda, bingung, yap saya juga bingung mau ngapain setelah lulus. Iya sih saya kuliah di STAN yang insya Allah udah dijamin penempatan kerja. Tapi, selama nunggu penempatan itu -- yang ternyata bisa sampai satu tahun! -- apa yang mau saya lakuin? Berani-beraninya nekad tetep di jakarta padahal belum jelas juga mau ngapain.



Saat itulah tiba-tiba temen kasih kabar kalau dia lagi cari guru privat. Saat itu rasanya plong.. Allah (memang) sudah mengatur semuanya. Tiap orang punya jatah rizqi masing-masing. Dengan penuh semangad menyusun strategi mengajar cz sang calon murid itu katanya susah konsen n susah nyambung kalau diajar. Butuh kesabaran lebih sepertinya, tapi.. i can do it ^^ (smile)

30 Agustus 2007 - Datang ke rumah sang murid. Belum mulai ngajar. Kata sang temanku itu -- yang nawarin job ini -- biasanya si ibu tanya-tanya metode ngajar dan fee dsb. Wuih, berasa mau dikompre hehe. Saya sudah nyiapin metode pengajaran (sempat nanya-nanya ke temen yang punya bakat psikolog juga, gimana cara menghadapi anak yang susah konsen. Hehe pokoknya semangadz! ^^).


Beberapa langkah menuju rumah si ibu, sang teman ini ngomong pelan (tapi dalem, hehe, ga dinx) "Di rumah ibu nya ada anjing". Huaa! Muntab (baca: very angry) lah saya.
Setelah dialog itu, suramlah saya (hehe, sebenarnya sebelum itu juga sudah suram, bad-mood-day kebetulan pas itu). Mulai memilih-milih alasan untuk menolah tawaran ngajar itu. Biasa..

Di halaman samping rumah ibu nya - Si ibu ramah. Ga ada tanda-tanda punya anjing (hehe, apa maksudnya kalimat ini??). Mulai ngobrol. Tentang si calon murid ku yang pendiam (kata si ibunya). Bagus lah, saya diem, murid saya diem juga, hehe. "Trust me, bu"
Hampir mantap menerima tawaran ngajar. (Karakter unik murid = tantangan kan?) Tiba-tiba, guk-guk-guk, makhluk kecil mengerikan berlari mendekati saya. Semakin dekat.. dekat.. Tidak memperlihatkan tanda-tanda mau berhenti.. AAAAARRGGGGG! menjerit (dalam hati). Panik, saya mendekati si ibu. Sang teman bilang "Jangan lari" dengan santai. Terlambat. Sang anjing sepertinya mendekati saya juga. Hampir saja saya naik ke atas meja, untung sedikit akal sehat masih tersisa (hehe).
Menit selanjutnya, sang anjing disingkirkan, eh saya yang terpaksa harus menyingkir masuk ke dalam rumah. Lega. Pembicaraan seputar kontrak (hehe) ngajar berlanjut. Sementara, Ya Allah, anjing itu berlari-lari di luar, sesekali mendekati kaca rumah, menatap saya.
Akankah kengerian ini saya alami setahun mendatang..

Hikmah yang bisa diambil :
Fiqh thoharoh bab bersuci dari najis mugholadhoh yang saya pelajari akhirnya bisa dipraktikkan juga.. Hikz T_T





Powered by Blogger