Mupeng Macarons

Ahaha, gimana? Sudah pusing belum? Kalau bikin rumus malah jadi pusing, diskip saja boleh, asal kita udah tahu polanya.
Para pembaca blog ini, terutama yang meninggalkan komen disini, mungkin mengamati beberapa postingan terakhir selalu tidak ada tanggapan komen dari saya
#pede-banget-ada-yang-konsisten-membaca-blog-ini :D
Sekalian meluruskan ya, bukannya saya mengabaikan atau males menjawab komen yang ada, tapi.. karena tidak bisa komen.
Begini ini tampilannya kalo mau komen di blog sendiri,
Udah tulis komen berbanyak-banyak, begitu klik Post Comment, tuing! #nothinghappen
Ada yang bisa beri solusi?
Terima kasih banyak :)
Ikutan MaretCeria Cal-Vin Giveaway di http://www.fitrian.net/2011/03/maret-ceria.html
Hasil dari blogwalking mengunjungi blognya Bundit :D
Keterangan foto:
Itu foto aku sama adekku di area Kampus UGM di Jogja. Waktu itu aku masih tinggal di Semarang dan adekku kuliah di Jogja, jadinya sering saling mengunjungi. Itu ceritanya kita habis jajan Cilok. Jajanan favorit saat itu Cilok, Batagor dan Es Kunyit Asam (kalo ga salah eh) yang murah meriah di UGM :D
Kalau mengingat masa lalu, momen-momen jalan-jalan berdua terasa mewah sekarang setelah kita tinggal terpisah Solo-Jakarta.
Gimana, cukup ekspresifkah kita berdua? hahayyy...

“Ketika seorang ibu memiliki pekerjaan di luar rumah sekalipun, ia tak akan lepas dari urusan domestik.” Quote dari bagian pengantar di buku Jumpalitan Menjadi Ibu. Buku ini berisi kumpulan cerita pengalaman real para ibu, baik yang menjadi full time/stay at home mother maupun working mom. Dan benang merah semua cerita itu adalah balada, jumpalitan, serta kerepotan para ibu itu dalam menjalani perannya sebagai seorang ibu yang harus menghandle urusan rumah tangga (ataupun para ibu bekerja yang harus mendelegasikan sebagian tugasnya pada Asisten Rumah Tangga), memikirkan menu sehat untuk anak, mengantar-jemput anak sekolah, menjalani kehamilan, mendidik anak, dsb. Membaca buku ini meyakinkan saya bahwa keduanya, baik full time ataupun working mother, salah satu tidak lebih baik atau lebih buruk dari yang lainnya. Dan saya yang baru satu tahun menjadi ibu ini, menjadi semakin sadar bahwa menjadi seorang ibu mungkin akan mengurangi beberapa keleluasaan yang pernah dimiliki ketika masih lajang dulu, tapi ada banyak hal-hal membahagiakan yang tidak akan pernah terbayangkan jika tidak menjadi ibu.
Membaca buku ini akan membuat perasaan teraduk-aduk, apalagi jika membacanya sekali habis tanpa dijedai dengan aktivitas lain. Beberapa cerita membuat saya geli karena gaya penuturan penulis yang kocak, beberapa membuat saya terkagum dan salut dengan sikap sang penulis terhadap anaknya, ikut merasa khawatir ketika membaca cerita tentang pengaruh negatif teknologi pada anak, kemudian merasa prihatin ketika membaca ulah ART dan sulitnya mencari ART yang sesuai dengan harapan, bahkan sempat ‘meleleh’ di cerita ketiga yang berjudul Cinta Bunda di Setiap Embusan Napas.
Beberapa tahapan dalam cerita-cerita di buku ini sudah dan sedang saya jalani, seperti pengalaman kehamilan, memasak menu untuk anak, dan mencari ART. Sedangkan tahapan seperti mengantar anak ke sekolah, ‘serunya’ menjalani pagi hari ketika mempunyai anak usia sekolah, ataupun masalah pergaulan anak, adalah tahapan yang baru akan saya jalani minimal lima tahun kedepan. Tapi tetap saja sharing pengalaman para ibu ini bermanfaat untuk mempersiapkan mental dan ‘perbekalan’ lain yang diperlukan ketika saat itu nanti tiba.
Jadi, tidak perlu menunggu menjadi ibu untuk bisa membaca buku ini, seorang anak, seorang single, atau seorang ayah, boleh saja membaca buku ini agar bisa lebih berempati pada para ibu =)
Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Menulis Notes Jumpalitan Menjadi Ibu yang diadakan penerbit Lingkar Pena

Ada yang berbeda di Islamic Bookfair (IBF) kali ini, maksud saya, untuk saya.
IBF tahun-tahun sebelumnya saya adalah penikmat setia yang heboh mengejar buku-buku berdiskon :D
IBF tahun-tahun sebelumnya saya hanya bisa mendatangi event ini satu kali saja (maunya si sepanjang event ini, tapi ga ada dana, hiks :P)
IBF tahun-tahun sebelumnya adalah event yang menguras dana dan tenaga, dana untuk menebus buku-buku incaran dan tenaga untuk menjelajahi seantero arena Bookfair (dan ternyata, beberapa buku hasil buruan di bookfair beberapa tahun lalu ada yang belum selesai dibaca, hahaii :D)
Provocative Proactive. Tau kan? Salah satu program di metro tv. Semacam talk show yang mengangkat tema-tema yang sedang hangat. Gaya obrolan Panji, Ronal dan Jflow yang ringan dan penuh humor terasa menyegarkan. Lumayan buat tontonan lah sebelum nantinya (mungkin akan) jadi membosankan.
Tadi pagi sekilas lihat iklan acara ini, temanya Pajak Warteg, Apa Kata Dunia? Hmm.. rencana Pemprov DKI untuk mengenakan pajak pada pengusaha warteg alias warung tegal memang sedang hangat ya, Pajak juga sedang jadi sorotan dengan terungkapnya “skandal mafia pajak’ Gayus Tambunan.
Btw, slogan ‘Apa Kata Dunia’ ini kan slogannya Direktorat Jenderal Pajak (DJP), dan yang diurusi oleh DJP ini kan pajak pusat. Sementara pajak warteg ini walayahnya pajak daerah yang ketika dipungut akan masuk ke kas pemerintah provinsi. Agak nggak nyambung ya? Apa metro tv nggak tau ya? Oo.. mungkin sengaja dibuat judulnya seperti itu biar lebih menarik pemirsa. Mungkin lho ya.
Karier saya adalah keluarga (Mario Teguh - The Golden Ways)
Banyak yang terjadi sepanjang tahun 2010 ini. Mulai dari melahirkan (28 Maret 2010), mutasi kerja ke Jakarta (per Mei 2010, tepat beberapa minggu sebelum cuti melahirkan berakhir, alhamdulillah bisa tinggal bersama suami setelah menjalani LDL Semarang-Jakarta sejak pernikahan 12 April 2009 :)), merintis bisnis online perlengkapan ibu, bayi dan muslimah WataShop (Agustus 2010) dan yang terakhir pengumuman Tugas Belajar November 2010 lalu (insya Alloh mulai Januari 2011 saya akan kembali ke bangku kuliah :))
Alhamdulillah. Bersyukur atas begitu banyak nikmat yang saya rasakan. Tapi yang namanya manusia, keinginan lebih akan selalu saja ada ya? (Hiks, astaghfirulloh, semoga bukan kufur nikmat). Belakangan ini keinginan untuk resign semakin menjadi saja. Ingin, sungguh ingin menjadi working-at-home-mom (WHM) yang punya banyak waktu bersama dengan anak, tidak seperti sekarang ini yang harus meninggalkan anak dari pukul tujuh pagi sampai pukul enam petang, membiarkan anak dalam asuhan Asisten Rumah Tangga. Keinginan ini semakin menjadi melankolik ketika membaca curhatan ibu-ibu di forum diskusi dan milis, ketika bertransaksi dengan WHM, bahkan ketika berinteraksi dengan tetangga yang full-time-mother (FTM).
Mencoba merunut sejak kapan niatan resign itu terlintas, hmmm, sepertinya sejak punya bayi. Awalnya sebatas keinginan abstrak saja, bahwa saya ingin berhenti bekerja dari kantor sebelum masa pensiun datang. Berhitung, masa pensiun umur 56 tahun, pada umur setua itu anak-anak saya pasti sudah tinggal bersama keluarga masing-masing, dan saya hanya berdua dengan suami saja (insya Allah). Ugh, nggak mau saya bersepi-sepi di masa tua. Maunya saya, berhenti kerja ketika saya belum terlalu tua dan anak-anak belum terlalu dewasa, biar bisa main bersama :)
Malam tadi ketika membaca buku Bunda Manajer Keluarga tulisan Irawati Istadi, ada satu paragraf di halaman 233 yang menyentil hati ini, isi paragraf itu adalah bahwa ‘Para wanita di Jepang berhenti dari pekerjaan mereka ketika mereka mempunyai bayi, dan mereka memulai mencari pekerjaan yang bersifat part time ketika anak mereka berusia 2 tahun kemudian ketika anak-anak mereka telah mencapai usia sekolah dasar baru wanita Jepang serius membangun karier mereka lagi’. Saya utarakan hal ini pada suami, jawabnya “Adik siap ga, uang belanja dikurangi, nggak jajan-jajan di luar lagi...(dst)?” Ya, ya, ya, saya sadar bahwa keputusan untuk resign itu bukan keputusan yang mudah, konsekuensi secara finansial pasti ada. Banyak hal yang harus dipersiapkan. Termasuk mengkomunikasikan rencana resign pada keluarga, tidak hanya pada keluarga inti tapi juga keluarga noninti.
Bismillah... bertekad untuk menjadikan keluarga sebagai karier utama, dengan (berusaha) tidak menganaktirikan karier-karier yang lain (sebagai pegawai dan sebagai owner dari WataShop :D). Untuk jangka pendek ini sepertinya tidak memungkinkan untuk bisa segera resign, jadi langkah minimal yang bisa saya lakukan adalah menyusun rencana resign yang lebih realistis dan memantapkan WataShop ini agar cukup menghasilkan ketika saatnya saya resign nanti. Mohon doanya :)
Artikel ini diikutsertakan pada Kontes Unggulan Muhasabah Akhir Tahun di BlogCamp
Baru kali ini sepanjang hidupku,
menyadari aku punya cita-cita yang sangat ingin aku mencapainya.
Ingin berkarier di rumah
itu saja
Siapa sih yang ga mau masuk surga? Kalau ditanya seperti itu, bisa dijamin kebanyakan akan menjawab MAU. Tapi, seringnya kita (eh, saya) lebih sering lupa. Lupa untuk menghadirkan impian masuk surga itu dalam keseharian kita. Ketika berjibaku dengan pekerjaan di kantor, dihadang deadline, ingatkah tentang itu? Ketika menghadapi anak rewel, tetangga bawel, impian masuk surga entah ada dimana.
Kenapa saya pilih buku ini? Karena judulnya: Amalan-amalan RINGAN Pembuka Pintu Surga. Dengan amalan ringan bisa membuka pintu surga? Kalau pintu udah terbuka berarti tinggal masuk ya? Alhamdulillah bahagianya :)
Lalu, kenapa saya layak dapet buku ini? Pertama, karena saya sangat ingin tahu amalan ringan apa yang bisa membuka pintu surga. Kedua, karena saya belum punya buku ini, hehe :D
Postingan ini diikutsertakan dalam Kuis GriyabukuQ Berbagi Buku: Pilih Sendiri Buku Hadiahmu! Di alamat http://griyabukuq.multiply.com/journal/item/87/
Buku yang dipilih: Amalan-amalan Ringan Pembuka Pintu Surga http://griyabukuq.multiply.com/market/item/39/_Amalan-Amalan_Ringan_Pembuka_Pintu_Surga
Nitip catet menu MPASI salsa ya, hehe Belum optimal si bikin menunya, masih harus banyak-banyak buka referensi (hizzz, ga pernah sukses baca wholesomebaby.com)
**) Keterangan tabel: Harusnya wortel baru boleh diberikan ke bayi umur 8bulan, karena kandungan nitratnya tinggi. (Eh, eh, emang kenapa kalo nitratnya tinggi? zzrrrtttt.. nanti googling dan blogwalking lagi ahhhh)
Lama gak berkunjung ke blog teman-teman
Abis edit template #again.. udah ah abis ini ga edit-edit lagi terpaksa link blog kawan yang sudah terpasang banyak itu terhapus biar template yang baru bisa berjalan maksimal.
Hyuuuu... mau memunguti satu persatu blog teman ah...
Alhamdulillah sudah memasuki hari ke-14 MPASI Salsa. Sudah mencoba 3 jenis bubur dan 2 jenis buah. Bubur Beras coklat, bubur beras merah, bubur ubi. Ketiganya menggunakan Tepung Gasol Organik. Buah yang sudah dicoba pepaya dan alpukat. Yuk dilihat tabel menu MPASI Salsa selama 14 hari ini :Bubur Beras Coklat
Memilih beras coklat berdasarkan sharing dari kawan sesama emak-emak yang memulai memperkenalkan MPASI pada bayinya dengan bubur beras coklat. Bingung juga pertama dengar ini beras. Coklat? Langsung deh berasosiasi dengan coklat yang manis itu. ternyata.. ini hasil bertanya ke om gugel :
Beras coklat adalah beras yang hanya dihilangkan sekamnya, namun tidak dipoles menjadi beras putih (dari sini)
Beras Coklat adalah beras putih yang masih mengandung lapisan kulit ari. Berbagai penelitian membuktikan kulit ari beras (aleuron dan pericarp) banyak mengandung nutrisi (protein, lemak, vitamin, mineral dan serat). (dari sini)
Reaksi salsa :: Hari pertama seporsi bubur beras coklat ga habis. Mungkin masih merasa aneh dengan rasa bubur. Hari kedua s.d. empat habis tandas! Hebat! Plok plok plok :D
Puree Pepaya
Awalnya berniat memperkenalkan alpukat. Tapi di pasar lagi kosong, jadilah cari-cari buah yang ada di kulkas. Taraa! Ada si pepaya ini nangkring, sudah dukupas dan dipotong-potong pula. Hihi. Dan karena kami belum punya blender, akhirnya dipakelah grinder dari pigeon foodmaker untuk menghancurkan pepaya ini.
Reaksi salsa :: Langsung bergidik begitu sesendok puree pepaya masuk ke mulutnya. Hihi. Puree ini juga ga habis, cuma beberapa sendok saja yang berhasil masuk ke perut. Tapi jangan tanya khasiatnya. Malemnya salsa sampai poop dua kali sangking lancarnya :D
Bubur Beras Merah
Memilih untuk membuat bubur beras merah setelah melihat efek pepaya pada salsa. Hihi. Bubur beras merah dengan porsi lebih banyak dari sebelumnya.
Reaksi Salsa :: Buburnya habis :)
Bubur Ubi
Tepung gasol yang belum dicoba di lemari ada tepung ubi, arrowroot dan satu lagi lupa. Dari ketiga itu dipilihlah tepung ubi. *ternyata tepung ubi lebih mudah bercampur dengan air ya daripada tepung beras* Warna buburnya bagus, ungu :D
Reaksi salsa :: Bergidik lagi ngerasain bubur ubi. Mamnya belepotan kemana-mana. Hari pertama kenalan bubur ubi ga habis 1 porsi, hari berikutnya .. mm lupa. Pokoknya si bunda mah ga pernah maksain salsa untuk menghabiskan makanannya. Namanya juga latihan mam :)
Puree Alpukat
Akhirnya mimpi mengenalkan alpukat ke Salsa kesampaian juga! Ini alpukat dibeliin sama Ayah salsa. (makasih Ayah :)
Reaksi Salsa :: hampir sama seperti ketika berkenalan dengan pepaya. Hihi. Yang ini ga pake bergidik, tapi seporsi ga habis juga.
RSS Feed
Twitter