Kebebasan Saya Dibeli

Beginning is always hard. Awal masuk kantor (padahal baru magang =), saya merasa kehidupan saya yang tadinya bebas-merdeka-bisa-pergi-dan-melakukan-apa-aja, jadi berubah. Magang mengubah hidup saya! Yang sebelumnya saya adalah mahasiswa, yang bisa bebas untuk menjadi idealis (versi saya based on my way of life tentunya =), bebas memilih aktivitas apa yang akan saya kerjakan dalam satu hari, bebas mau mobile kemana saja.


Tiba-tiba harus masuk kantor, duduk diam disana (pas awal magang masih jarang kerjaan, pen), bertemu orang-orang baru yang kebanyakan lebih tua (yang sudah terbiasa dengan kehidupan orang kantoran-berstatus PNS), dsb, dsb. Banyak kejutan di kantor! Hi-salary-low-productivity. Seseorang di bagian saya sampai-sampai pernah bilang, “Gimana ngitungnya ya, kerjaan gini tapi gaji saya d*****n j**a”. Sembari duduk santai setelah menyelesaikan kerjaan. Beberapa saat kemudian beliau tidur-tiduran di kursi kayu panjang, di salah satu bagian kantor.

Sempat merasa trapped in the office. Bahkan terpikir bahwa kebebasan saya dibeli dengan harga delapan-ratus-lima-puluh-ribu per bulan (uang lelah magang, pen). Yang bahkan belum saya terima sampai sekarang. Hehe.

Apakah saya yang terlalu memperdrama?






2 Response to "Kebebasan Saya Dibeli"

  1. menurut qisthi negara ga membeli kebebasan kita kok... bukankah 3 tahun lalu kita menyerahkan diri secara sukarela untuk di atur oleh negara dan menjadi abdi masyarakat...
    meskipun qisthi juga sering ngeluh(astaghfirullah..) coz ga ada kerjaan maybe memang skrg kita emang belum punya jobdesk yang jelas...
    Tapi yang pasti kita pasti bisa nyumbang sesuatu kan...
    Kata Tung Desem Waringin... Kalau kamu digaji 1 juta bekerjalah seperti kamu digaji 10juta... Dihitung2 emang rugi... tapi kita bisa tambah ilmu lho... Itu kan yang justru paling berharga???

    Jobdesk? Meja kerja? Job desc kali jeng.. Hehe. Jzq aniway.. ^^

Powered by Blogger